Jendela

Saat itu aku kalang kabut, entah harus kemana untuk membereskan perasaan ku yg berantakan seperti kapal pecah. 

Kamu membawa ku ke sebuah rumah sederhana dengan spanduk didepannya bertuliskan “Rumah ini Dijual”.

Rumah ini tidak besar namun juga tidak kecil, dibelakang pager terdapat balkon kecil dengan 2kursi dan 1meja berbahan kayu. 

Pintu nya sama dengan rumah lain pada umumnya, namun yg membedakan rumah ini dengan yg lain adalah sambutan hangat seseorang didepan pintu, sebuah pelukan dan ciuman untuk seorang tamu. Nyaman. 

Kamu dan ibu mu mempersilahkan masuk dan duduk, ruang tamu mu sangat sederhana dan nyaman sekali. 

Ada satu bagian yg aku suka dari rumah ini, jendela besar dengan pemandangan kearah luar. Aku suka.

Jendela ini adalah awal aku memasuki keluarga mu. Jendela ini saksi bisu percakapan antar kamu dan ibu mu. Jendela ini wadah untuk aku keluh kesah bersama mu. Dan jendela ini pula yg menunjukkan siapa kamu sebenarnya. 

Waktu begitu cepat, aku hampir tidak sanggup meninggalkan mu, jendela. 

Advertisements

Cinta itu pembelajaran. Seperti hal nya kamu, aku pun belajar. Belajar untuk bisa mengenal, mengerti dan memahami. Ternyata, Rumit seperti kimia. Ho. 

Ps : aslinya tidak sebagus foto ini. 👌

Memulai Kembali

Matahari sudah di penghujung petang

Kulepas hari dan sebuah kisah
Tentang angan pilu yang dahulu melingkupiku
Sejak saat itu langit senja tak lagi sama

Sebuah janji terbentang di langit biru
Janji yang datang bersama pelangi
Angan-angan pilupun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendu pun berganti menjadi rindu

Aku mencari
Aku berjalan
Aku menunggu
Aku melangkah pergi
Kaupun tak lagi kembali

Sebuah janji terbentang di langit biru
Janji yang datang bersama pelangi
Angan-angan pilupun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendupun berganti menjadi rindu
Sejak saat itu langit senja
Tak lagi sama

Angan-angan pilupun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendupun berganti menjadi rindu
Sejak saat itu langit senja
Tak lagi sama

Aku mencari
Aku berjalan
Aku menunggu
whoo ooh
Aku melangkah pergi
Kaupun tak lagi

Aku mencari
Aku berjalan
Aku menunggu
whoo ooh
Aku melangkah pergi
Kaupun tak lagi
Dan ku kan memulai kembali

~ Monita Tahalea ~

Hai 2017.

Hari ini kamu sakit, tidak masuk kantor. 

Semoga dengan sakit seperti ini kamu lebih baik kedepan nya. Amiin. 

Aku selalu mendoakan mu, sebelum maupun sesudah kami sakit. Cepat sembuh sayang 🙂

Bisa tidak ya kamu lebih peka terhadap perasaan ku?

Bukankah aku ini pasangan mu, bukankah aku ini orang yang kamu mau? 

Kenapa sikap mu begitu dingin, seolah aku ini orang asing di hidup mu. 

Apa jadinya hubungan ini jika kamu terus bersikap seperti itu? 

Aku bisa apa, selain membiarkan semua begitu saja terjadi. 

Lihat aku, lihat bagaimana hubungan ini sayang, bisakah kita memperbaiki nya? Mengembalikan ke semula seperti dulu? 

Beritahu aku…

Hi bang, 

Ijinkan aku bercerita tentang mu. 

Aku belum pernah sejatuh Cinta ini dengan laki”. Kamu itu racun. 

Percaya atau tidak, kehadiran kamu buat energi tersendiri buat ku. Energi positif tentunya. Hehe 

Aku suka semua yg ada di diri mu, rambut mu, wajah mu (mata mu, hidung mu, bibir mu,pipi mu), telinga mu, leher mu, badan mu, tangan mu, hingga kaki mu aku suka. 

Aku suka cara mu mengenggam tangan ku, aku suka cara mu memeluk ku, aku suka caramu mencium ku, aku suka apapun yg kamu lakukan untuk aku. 

Kamu selalu bisa buat aku resah, selalu bisa buat aku senang, selalu bisa buat aku sedih dalam waktu bersamaan. Hebat. 

Aku menulis ini bukan karna aku sedang jatuh Cinta , sedang berbunga-bunga. Tidak! Aku menulis ini karna aku sedang gundah, sedih. 

Aku sedih karna rindu ku tak terbalas oleh mu, aku sedih keinginan ku tak terpenuhi oleh mu, aku sedih kehadiran ku tak membuat mu nyaman. 

Aku selalu khawatir tiap kamu menghilang, pergi entah kemana. 

Mungkin buat mu ini hanya omong kosong yg berlebihan, tidak apa. 

Terimakasih sudah membuat aku merasakan semua itu. Aku tidak menyesal atas kehadiran mu, aku senang. Aku senang. Terimakasih. 

– Diatas kasur, Kamar teteh –